Louis Braille

7 06 2008

Pencetus Tulisan Braille

Louis Braille yang dilahirkan pada 4 Januari 1809 di bandar Coupvray berhampiran Paris tersebut merupakan seorang pencetus tulisan braille. Tulisan braille adalah titik-titik yang timbul sebagai pengganti huruf dan angka dari tulisan biasa agar orang buta dapat membaca.
Anak keempat dari Monique (Ibu) dan Simon Rene Braille(Ayah) yang merupakan seorang tukang kulit tersebut, awalnya memiliki penglihatan yang normal. Ketika berusia 3 tahun, Louis Braille bermain di warung ayahnya. Pada saat bermain, matanya terkena pemegang kayu bulat yang memiliki ujung yang sangat tajam kepunyaan ayahnya. Louyis pun hanya bisa melihat dengan sebelah matanya. Akan tetapi, tidak lama setelah kejadian itu, satu matanya yang saat itu memang merupakan satu-satunya alat penglihatannya, terjangkit kuman dan mengakibatkan Louis Braille benar-benar tidak bisa melihat.
Dengan mata yang tidak bisa melihat lagi, pada tahun 1819, ketika berusia 10 tahun, Louis Braille mendapatkan beasiswa untuk belajar di Institute Kanak-Kanak Buta, Paris. Pendiri Institute tersebut, Valentin Hauy, mendapat ide untuk membuat buku dengan huruf timbul yang dapat dibaca orang buta. Buku-buku tersebut agak sukar dibaca, tebal dan mahal untuk dibuat, dan sbesar setiap hurufnya hanya 1 inci. Keadaan di sekolah tersebut amat tegas. Bangunan sekolahnya lembap dan melaksanakan sistem displin yang tegas sebagaimana sekolah-sekolah lain pada masa itu. Pelajar yang bersalah akan dirotan, dikurung, diberi roti keras dan air. Kehidupan orang pada masa itu sangat sulit dan bagi pelajar yang dapat melihat, pada umumnya akan disuruh bekerja saat berusia 12 tahun di kilang atau dalam lombong arang batu.
Sekolah di Paris, pelajar buta akan diajarkan kemahiran praktikal seperti menganyam kursi agar mereka dapat mencari nafkah selepas tamat sekolah. Sekali seminggu, mereka akan ditampilkan di taman dengan pinggang yang terikat tali. Mereka diajar membaca tetapi tidak untuk menulis. Huruf di buku dibuat dengan menggunakan wayar tembaga yang ditekan pada kertas. Setiap huruf perlu dibentuk dengan menggunakan wayar dan orang buta tidak akan dapat melakukannya sendiri. Di sekolah itu hanya terdapat empat belas buku dengan huruf braille dan ia membaca semua buku tersebut. Louis Braille merupakan seorang yang sangat berbakat. Dia mempelajari cara bermain cello dan organ ketika masih muda. Dengan musiklah Loius mulai memiliki pendapatan yang tetap.
Ketika Louis mengambil cuti, ia menghabiskan masanya untuk memperbaiki cara penulisan huruf timbul ini. Ia menyadari kelemahan sistem Sonography seperti penggunaan asas dua belas titik dan penulisan berasaskan bunyi. Ketika berada dibengkel ayahnya, Louis menyentuh alat pembuat lubang ayahnya dan dia mendapat ide untuk menggunakan alat tersebut yang tumpul untuk membentuk tanda titik timbul di atas kertas.
Setelah beberapa bulan berusaha, dia mendapatkan sistem enam titik timbul sebagai yang terbaik. Louis Braille meneruskan penulisan buku braille selama beberapa tahun, memajukan kod mathematik dan musik.
Pada tahun 1827, buku braille yang pertama diterbitkan. Bagaimanapun juga, sistem baru ini tidak langsung diterima. Ini disebabkan karena adanya halangan dari mereka yang tidak memahami keperluan orang buta dan tidak mau menerima penggunaan bentuk tulisan yang tidak dapat dibaca oleh orang biasa. Malah salah seorang Kepala di sekolah Louis Braille melarang penggunaan tulisan braille dan membakar buku braille yang ada.
Tulisan braille terus dipelajari dan digunakan oleh beberapa pelajar secara sembunyi-sembunyi. Louis tetap berusaha untuk menyebarkan tulisan braille sampai pada akhirnya tulisan braille diterima.
Pada tahun 1834, Louis menyempurnakan sistemnya dan menerbitkan buku Cara Menulis Perkataan, Musik, Dan Lagu Dengan Menggunakan Titik Untuk Digunakan Orang Buta Dan Disusun Oleh Mereka “Method of Writing Words, Music and Plain Song by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged by Them” .
Dengan menggunakan tulisan braille, sekarang orang buta bukan saja boleh membaca, malah dapat menulis dengan menggunakan peralatan tajam yang menyerupai alat ‘awl’ yang dulu telah membuat mata Louis menjadi buta. Mereka kini dapat berdikari. Louis Braille menjadi guru di sekolahnya dulu. Ia dikagumi dan dihormati oleh murid-muridnya kerana kegigihannya, tetapi dia tidak dapat melihat sistem penulisan braillenya diterima khalayak ramai.
Louis mulai sering diserang penyakit dan pada 6 Januari 1852, ketika berumur 43, ia mati akibat penyakit batuk kering yang dideritanya.
Pada mulanya, sistem tulisan yang telah dibuatnya hampir hilang tetapi beberapa orang penting menyadari kepentingan ciptaan dari Louis.
Pada tahun 1868, Dr. Thomas Armitage (1824-1890) dan tiga rekannya mengeluarkan ‘British and Foreign Society for Improving the Embossed Literature of the Blind’. Kumpulan sahabat yang kecil ini bertambah dan menjadi Institusi Negara DiRaja Untuk Orang Buta ‘Royal National Institute for the Blind’, pencetak buku braille terbesar di Eropa dan British.
Pada tahun 1990, tulisan braille digunakan seluruh dunia. Sistem tulisan braille sering diperindah, sehingga kini terdapat berbagai kod untuk membolehkan penulisan untuk nota musik, bahasa Arab, bahasa Melayu, metamatik, dan lain-lain. Kini buku-buku braille boleh dicetak. Terdapat pencetak tulisan braille yang disebut ‘embosser’, yang dapat mencetak buku-buku braille, tetapi masih belum bisa untuk mencetak gambar-gambar untuk digunakan dalam buku-buku braille.
Di Prancis usaha Louis Braille selama hidupnya telah diakui. Pada tahun 1952, mayatnya dipindahkan ke Paris di mana Louis Braille dikebumikan di Pantheon, tempat pengkebumian pahlawan Negara Prancis. Berkat usaha Louis Braille, kini orang-orang buta telah dapat membaca dan menulis. (borry)


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.